2.
Proses
Pembuatan Kompos Dengan Aktivator EM-4
Kompos
itu
merupakan hasil fermentasi dari bahan-bahan organik sehingga berubah
bentuk, dan berubah warna menjadi kehitam-hitaman dan tidak berbau.
Pengomposan
merupakan proses penguraian bahan bahan organik dalam suhu yang tinggi
sehingga
mikroorganisme dapat aktif dan dapat dihasilkan bahan yang dapat
digunakan
tanah tanpa merugikan lingkungan.
Proses
pembuatan kompos adalah dengan menggunakan
aktivator EM-4, yaitu proses pengkomposan dengan menggunakan bahan
tambahan
berupa mikroorganisme
dalam
media cair yang berfungsi untuk mempercepat
pengkomposan dan memperkaya mikroba. Bahan-bahan yang digunakan adalah :
Kotoran
Ternak, EM4, Molase dan Air.
Sedangkan
peralatan yang digunakan adalah : Sekop,
Cakar, Gembor, Keranjang, Termometer, Alat pencacah, Mesin giling kompos
dan
Ayakan. Tahapan pembuatan kompos dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Pemilahan
Sampah
Sampah
yang
dikumpulkan di TPA pada umumnya bercampur antara bahan-bahan organik
maupun non
organik sehingga pemilahan perlu dilakukan secara teliti untuk
mendapatkan
bahan organik yang dapat dikomposkan seperti dauan-daunan, sisa makanan,
sayuran dan buah-buahan.
2) Pencacahan
Sampah
organik yang
telah terkumpul dicacah dengan ukuran 3-4 cm. Pencacahan dilakukan untuk
mempercepat proses pembusukan karena pencampuran dengan bahan baku yang
lain
seperti kotoran ternak dan EM-4 menjadi rata sehingga mikroorganisme
akan
bekerja serana efektif dalam proses fermentasi.
3) Pencampuran
Bahan Baku
Sampah
yang sudah
dicacah dideder di tempat yang telah disediakan kemudian dicampur dengan
kotoran ternak. Pencampuran/pengadukan dilakukan secara merata kemudian
dicampurkan pula campuran EM-4, molase dan air di atas campuran sampah
dan
kotoran ternak. Pencampuran dilakukan sekali lagi agar
seluruh
bahan bercampur
secara merata. Komposisi bahan-bahan ini adalah sampah cacahan
4) Penumpukan
Bahan Baku
Setelah
dilakukan
pencampuran secara merata kemudian dilakukan penumpukan dengan ketentuan
tinggi
1,5 m, lebar 1,75 m dan panjang 2 m. Penumpukan dapat dilakukan dengan
model
trapesium, gunungan maupu pesesgi panjang. Dalam tumpukan inilah terjadi
proses
fermentasi sampah organik menjadi kompos.
5) Pemantauan
Dalam
masa penumpukan
akan terjadi peningkatan suhu sebagai akibat proses fermentasi. Untuk
hari
pertama sampai kelima suhu biasanya mencapai 65° C atau lebih. Hal ini
berguna
untuk membunuh bakteri yang tidak dibutuhkan dan melunakkan bahan. Pada
hari
keenam dan seterusnya suhu dijaga antara 40-50° C dengan kelembaban
lebih
kurang 50 %. Suhu dan kelembaban dapat dipertahankan dengan perlakuan
antara
lain penyiraman dan pembalikan tumpukan.
6) Pematangan
Pengkomposan
berjalan
dengan baik dengan suhu rata-rata dalam bahan menurun dan bahan telah
lapuk dan
berubah warna menjadi coklat kehitaman. Tujuan pematangan untuk
menjamin kompos benar-benar
aman bagi konsumen.
7) Pengeringan
Setelah usia tumpukan mencapai usia 21 hari/3 minggu, maka
sampah organi
sudah menjadi kompos. Selanjutnya dilakukan pembongkaran untuk
dikeringkan/dijemur. Pengeringan dapat dilakukan selama lebih kurang 1
minggu
sampai kadar air kira-kira mencapai 20-25%.
8) Penggilingan dan Pengayakan
Proses selanjutnya adalah dilakukan penggilingan terhadap
kompos yang sudah
kering. Untuk mendapatkan butiran-butiran kompos yang siap untuk dikemas
dilakukan pengayakan sesuai dengan kebutuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar